Kerajaan Banten

Kerajaan Banten adalah kerajaan bercorak Islam, karenanya juga sering disebut Kesultanan Banten. Raja yang pertama bernama Sultan Hasanuddin. Ia mendirikan Kesultanan Banten sekitar tahun 1550 an. Kerajaan ini bisa ada karena rntuhnya salah satu kerajaan di daerah Demak.

Selama kerajaan ini berdiri, ada banyak peninggalan dan warisan yang diberikan. Salah satu warisannya adalah adanya keinginan warga-warganya yang tetap menjadikan daerah Banten memiliki otonomi daerah karena sudah terbiasa dengan campuran etnis sejak zaman kerajaan Nusantara. Sehingga pada akhirnya mulai tahun 2000, Banten menjadi provinsi sendiri yaitu Provinsi Banten.

Runtuhnya kesultanan ini dikarenakan perang internal, yaitu antar keluarga kerajaan. Ditambah lagi dengan adanya VOC yang sedang aktif dan berjaya di Indonesia pada saat itu, semakin terancam saja Kerajaan Banten pada saat itu.

Peninggalan Kerajaan Banten

Kesultanan Banten memberikan banyak peninggalan berupa bangunan yang sampai sekarang masih ada di sekitar Provinsi Banten. Beberapa peninggalan berupa bangunan yang masih ada sampai sekarang antara lain Masjid Agung Banten, Benteng Speelwijk, Istana Keraton Surosowan, dan Istana Keraton Kaibon.

Peninggalan kerajaan Banten lainnya yang berupa danau buatan adalah Danau Tasikardi yang berada tidak jauh dari Istana Keraton Kaibon. Danau buatan ini dibangun pada masa kepemimpinan Sultan Maulana Yusuf. Danau yang digunakan untuk sumber air keluarga kerajaan sekaligus pengairan sawah sekitar ini dulunya memiliki luas sebesar 5 hektar. Namun karena termakan usia, yang mana membuat sedimen tanah dari air hujan menutupi pinggir-pinggirnya.

Satu lagi peninggalan dari Kerajaan Banten yang juga merupakan bangunan namun tidak sejenis istana. Peninggalan tersebut adalah Vihara Avalokitersvara. Kesultanan Banten memang merupakan kerajaan bercorak Islam, namun mereka memiliki sikap toleransi yang tinggi sehingga membangunkan tempat ibadah untuk rakyat yang menganut agama Budha.

Salah satu peninggalan berupa benda dari kerajaan ini adalah Meriam Ki Amuk. Meriam yang ada di dalam Benteng Speelwijk ini dulunya digunakan untuk melawan penjajah dari Belanda. Di benteng tersebut sebenarnya tidak hanya ada meriam ini saja, namun Meriam Speelwijk lah meriam yang paling besar dan paling kuat.

Baca juga : Kerajaan Samudra Pasai

Sejarah Kerajaan Banten

Sejarah Kerajaan Banten justru diawali dengan runtuhnya kerajaan dari Demak, yaitu Kerajaan Demak. Runtuhnya kerajaan inilah yang menjadi latar belakang Kesultanan Banten berdiri. Disebut sebagai kesultanan karena Banten adalah kerajaan bercorak Islam.

Kesultanan Banten didirikan oleh Sultan Hasanuddin, putra dari panglima besar dari Kerajaan Demak. Penuh perjuangan di sekitar tahun 1552 Masehi, Sultan Hasanuddin tak hanya berhasil mendirikan kerajaan saja. Selama ia memerintah selama 19 tahun ada banyak kemajuan

Jika berbicara soal kehidupan sosial dan beragama, baik keluarga kerajaan dan rakyatnya memiliki sikap toleransi yang tinggi. Hal ini dibuktikan dari adanya vihara yang menjadi salah satu peninggalan kerajaan ini. Padahal, Banten berdiri sebagai kerajaan bercorak Islam, namun raja yang memimpin bersedia membangun vihara untuk tempat beribadah para penganut agama Budha.

Peninggalan-peninggalan yang diberikan kesultanan ini ada cukup banyak, mulai dari Meriam Ki Amuk, Masjid Agung Banten, Istana Keraton Kaibon, hingga danau buatan yang bernama Danau Tasikardi. Juga ada Benteng Speelwijk yang menjadi peninggalan lainnya, di mana meriam-meriam milik kesultanan disimpan.

Dari Sultan Hasanuddin sampai Sultan Ageng Tirtayasa kesultanan ini terus berjaya. Banyak bangunan istana, danau buatan, dan infrastruktur lainnya yang dibangun. Semasa raja-raja ini memimpin ada banyak hal yang bisa dipelajari dan menjadi inspirasi.

Runtuhnya Kesultanan Banten diawali dengan adanya perang saudara atau masalah internal antar keluarga kerajaan. Karena masalah internal ini, ada pihak yang justru bersekutu dengan Belanda dan ada yang tidak. Perang saudara ini justru mengantarkan Kesultanan Banten pada keruntuhannya.

Kehidupan Politik dan Sosial Kerajaan Banten

Kehidupan politik dan sosial kerajaan Banten tak lepas dari toleransi. Sikap toleransi antar rakyat cukup tinggi, berlaku juga di keluarga kerajaannya. Seperti yang telah dibahas di bagian peninggalan-peninggalan dari Kesultanan Banten, ada peninggalan berupa vihara yang mana padahal Banten berdiri sebagai kerajaan bercorak Islam.

Belum ada kerajaan Nusantara yang memiliki toleransi setinggi ini sebelum Banten berdiri sebagai kesultanan. Salah satu buktinya adalah didirikannya Vihara Avalokitesvara oleh raja yang memimpin.

Untuk kehidupan berpolitik, perlu diketahui dulu asal usul raja pertama atau pendirinya. Kesultanan Banten didirikan oleh Sultan Hasanuddin yang merupakan putra dari Pangeran Fatahillah. Adapun Pangeran Fatahilah sendiri adalah seorang panglima di Kerajaan Demak yang saat itu dipimpin oleh Sultan Trenggana.

Di saat masa-masa runtuhnya Kerajaan Demak, Banten tetap menjadi salah satu kekuasaan kerajaan ini. Putra dari Pangeran Fatahilah saat itu sudah dewasa, karena memiliki niat untuk menyelamatkan salah satu daerah kekuasaan milik Demak, akhirnya ia mendirikan Kerajaan Banten.

Setelah Sultan Hasanuddin, Kesultanan Banten dipimpin oleh putranya yang bernama Maulana Yusuf yang pada saat itu berhasil menguasai Kerajaan Pajajaran.

Sebelum Kesultanan Banten berdiri, rakyat di sana belum banyak yang menganut agama Islam. Kemudian setelah kesultanan ini berdiri, mulai berangsur-angsur diterapkan ajaran dan hukum Islam dalam kehidupan bermasyarakat.

Kemudian setelah Kerajaan Pajajaran dikalahkan, semakin luas pula penyebaran agama Islam. Bahkan saat itu Islam sampai ke pedalaman. Ini pun sempat ada kendala, sebab masyarakat di sana masi berpegang teguh pada agama nenek moyang mereka. Namun pada akhirnya, tetap semua rakyat bisa disatukan dan memiliki toleransi yang tinggi.

Silsilah Kerajaan Banten

Silsilah kerajaan Banten diawali dengan ayah dari raja yang pertama. Pangeran Fatahillah dari Kerajaan Demak memiliki seorang putra yang bernama Sultan Hasanuddin. Sultan Hasanuddin ini lah yang kemudian memutuskan untuk mendirikan sebuah kerajaan yang diberi nama Kesultanan Banten. Sebab, Kerajaan Banten adalah kerajaan yang bercorak Islam, sehingga sah-sah saja bila disebut sebagai kesultanan.

Sultan Hasanuddin memiliki putra bernama Maulana Yusuf yang kemudian menjadi raja kedua di Banten. Maulana Yusuf memiliki putra bernama Maulana Muhammad yang sudah diangkat raja pada usia 9 tahun. Garis keturunan terus berlanjut hingga lahirlah putra dari Maulana Muhammad yang bernama Abdul Mufakhir atau yang memiliki sebutan Pangeran Ratu.

Pangeran Ratu juga memiliki putra yang bernama Sultan Abu al-Maali Ahmad. Setelahnya, silsilah diteruskan hingga Sultan Ageng Tirtayasa, Sultan Abu Nashar Abdu Qahar, dan terus berlanjut sampai raja yang terakhir yaitu Sultan Muhammad bin Muhammad Muhyiddin Zainussalihin.

Pendiri Kerajaan Banten

Pendiri Kerajaan Banten adalah Sultan Hasanuddin. Seorang putra dari panglima besar kerajaan Demak. Sultan Hasanuddin mendirikan Banten sekitar tahun 1552 Masehi. Kemudian ia menjadi raja yang pertama di sana selama kurang lebih 18 tahun. Di bawah tangan Sultan Hasanuddin, Kerajaan Banten mengalami perkembangan yang pesat.

Raja Raja Kerajaan Banten

Ada sebagai kesultanan dari abad ke-15 sampai abad ke-18, Kesultanan Banten telah dipimpin oleh 16 raja raja Kerajaan Banten. Diawali dengan Sultan Hasanudin yang menjadi pendiri sekaligus raja pertama Kerajaan Banten. Memimpin selama 18 tahun lamanya, Banten memasuki masa kejayaannya meskipun batu saja berdiri.

Setelah 18 tahun memimpin, Sultan Hasanuddin wafat dan digantikan oleh putranya yang bernama Maulana Yusuf. Maulana Yusuf memimpin Kesultanan Demak selama 10 tahun dan saat itu berhasil menaklukkan Kerajaan Pajajaran yang berada di Bogor.

Karena meninggal di usia yang cukup muda, Maulana Yusuf kemudian digantikan oleh putranya yang bernama Maulana Muhammad. Maulana Muhammad diangkat menjadi raja di usianya yang ke-9. Karena masih muda, kepemimpinan saat itu dilakukan oleh Mengkubumi Jayanegara.

Setelah Maulana Muhammad dewasa dan meninggal karena menyerang Kesultanan Palembang, ia digantikan oleh anaknya yang masih berusia 5 bulan. Namanya adalah Pangeran Ratu atau Abdul Mufakir. Sampai ia dewasa, kepemimpinan dilakukan oleh Mengkubumi Ranamanggala.

Sebelum dilanjutkan oleh putranya, Kesultanan Banten sempat dipimpin oleh Sultan Abu al-Maali Ahmad selama 3 tahun. Baru setelah itu, atau tepatnya pada tahun 1651 Masehi Banten dipimpin oleh Sultan Ageng Tirtayasa.

Karena sebuah peperangan, Sultan Ageng Tirtayasa diserang oleh Belanda dan dipenjarakan di Batavia. Kemudian kesultanan ini dipimpin oleh Sultan Abu Nashar Abdul Qahar sampai 1687 Masehi, dilanjutkan dengan Sultan Abu Fadhl Muhammad Yahya, Sultan Abdul Mahasin Muhammad Zainul, Sultan Abdul Fathi Muhammad, Ratu Syarifah Fatimah, Sultan Arif Zainul, Sultan Abdul Mafakhir Muhammad Aliuddin, Sultan Abdul Fath, Sultan Abdul Nashar Muhammad Ishaq, dan diakhiri dengan Sultan Muhammad bin Muhammad Muhyidin Zainussalihin sampai Banten runtuh pada tahun 1813 Masehi.

Letak Kerajaan Banten

Letak kerajaan Banten yang akan dibahas ini menyesuaikan dengan pembagian wilayah Indonesia yang sekarang. Diketahui pusat dari Kesultanan Banten dahulu berada di ibukota Banten.

Sedangkan untuk daerah kekuasaan, daerah yang dikuasai Banten saat itu adalah seluruh daerah di Banten itu sendiri, bagian selatan Jawa Barat, seluruh bagian Lampung, dan seluruh bagian barat Pulau Jawa.

Karena memiliki kekuasaan hingga ke Lampung, Selat Sunda yang menjadi batas antara Pulau Sumatera dan Pulau Jawa juga menjadi daerah kekuasaan milik Banten. Karena ini pula, Banten pada saat itu menguasai seluruh perdagangan yang memiliki akses di Selat Sunda.

Keruntuhan Kerajaan Banten

Keruntuhan Kerajaan Banten tidak dalam satu waktu langsung runtuh begitu saja. Namun diawali dengan kendala atau masalah internal dan eksternal yang berangsur-angsur terjadi. Diawali dari adanya perang saudara antara Sultan Ageng dan salah satu putranya.

Sultan Ageng dan putranya yang bernama Sultan Haji saling berebut kekuasaan Kesultanan Banten. Hal ini terjadi sekitar tahun 1680 an Masehi. Sultan Haji kemudian meminta bantaun VOC untuk mengalahkan ayahnya.

Kemudian Sultan Ageng memutuskan untuk melarikan diri ke pedalaman bersama dua orang putranya yang bernama Pangeran Purbaya dan Syekh Yusuf. Kemudian sekitar bulan Maret tahun 1683 Masehi Sultan Ageng ditangkap oleh VOC. Dilanjutkan penangkapan pada Syekh Yusuf. Hal ini membuat putra Sultan ageng yang lain, Pangeran Purbaya menyerahkan diri.

Sebagai hadiah, Sultan Haji memberikan sebagian dari Lampung pada VOC. Sebelum Sultan Haji meninggal, monopoli lada yang bisa dimiliki Kesultanan Banten karena Sultan Hasanuddin jatuh ke tangan VOC.

Setelah Sultan Haji meningal, kekuasaan dialihkan ke putranya yang bernama Sultan Abu Fadhl, dan kemudian dilanjutkan oleh Sultan Abul Mahasin. Pada masa kepemimpinna Sultan Abul Mahasin, Hindia Belanda menyuruh untuk memindahkan ibukota Banten ke Anyer. Namun Sultan Abu Mahasin saat itu menolaknya, sampai akhirnya Hindia Belanda menyerang Kesultanan Banten dan berakhirlah kerajaan ini.

Masa Kejayaan Kerajaan Banten

Masa kejayaan Kerajaan Banten terjadi dua kali masa, yaitu saat kepemimpinan Sultan Hasanuddin dan Sultan ageng Tirtayasa. Selama Sultan Hasanuddin memimpin, Banten yang baru saja berdiri sebagai kerajaan telah berhasil menguasai Lampung. Selain Lampung, Banten juga berhasil menguasai apa yang ada diantara Demak dan Lampung, yaitu Selat Sunda.

Karena Selat Sunda berhasil dikuasai, maka jalur perdagangan menjadi dikuasai oleh Banten juga. Kekayaan kesultanan ini menjadi melimpah karena dikuasainya Selat Sunda.

Masa kejayaan juga diantar oleh Sultan Ageng Tirtayasa. Hal ini dibuktikan dengan keberhasilan membangun dermaga ala Eropa dengan cara membangunnya bersama pekerja dari Eropa. Sebab saat itu, kesultanan mampu membayar pekerja-pekerja tersebut.

Tidak hanya dibuktikan dari bangunan saja, masa kejayaan Banten karena Sultan ageng Tirtayasa juga dibuktikan dari adanya monopoli komoditas lada di Lampung. Karena berhasil melakukan monopoli ini, Banten menjadi pusat perdagangan lada pada saat itu.

Karena hal ini, banyak pedagang dari luar negeri yang sengaja datang ke Banten untuk membeli. Ditambah lagi, Selat Sunda telah dikuasai oleh Kesultanan Banten. Semakin mudah saja untuk menuju kejayaan.

Pada saat itu juga, Belanda atas nama VOC telah memblokade akses menuju dermaga Banten. Yang mana hal ini menjadi hambatan karena Banten sudah dikenal bisa menjual rempah-rempah. Namun kemudian Sultan ageng Tirtayasa berhasil mengakhiri hambatan ini.

Latar Belakang Berdirinya Kerajaan Banten

Latar belakang berdirinya Kerajaan Banten adalah niat seseorang yang ingin menyelamatkan salah satu daerah kekuasaan milik rajanya. Sekitar tahun 1552 Masehi, Kerajaan Demak yang berada di Demak memasuki masa keruntuhan.

Sedangkan pada saat itu, salah satu daerah kekuasaan milik Demak adalah Banten yang terletak di pinggir Selat Sunda. Salah satu panglima besar yang ada di Kesultanan Demak adalah Pangeran Fatahillah yang memiliki putra bernama Sultan Hasanuddin.

Daripada Banten jatuh di tangan penjajah atau di tangan lain, Sultan Hasanuddin kemudian mendirikan kesultanan di Banten yang akhirnya disebut dengan Kesultanan Banten.

Itulah yang menjadi cikal bakal atau latar belakang kesultanan di Banten ini ada, yaitu untuk menyelamatkan salah satu daerah kekuasaan dari kesultanan yang sudah tak bisa diselamatkan.

Makalah Kerajaan Banten

Makalah Kerajaan Banten adalah makalah yang menarik untuk dibuat. Pembuatan makalah ini membuat siapapun bisa mempelajari lebih banyak atau lebih dalam tentang Kesultanan Banten. Banyak pelajaran yang bisa diambil dari kesultanan ini, seperti misalnya sikap toleransi antar umat beragama, latar belakang pendirian kesultanan yang menarik, atau kisah salah satu rajanya yang terkenal yaitu Sultan Ageng Tirtayasa.

Peninggalan-peninggalan kerajaan ini masih ada dengan keadaan yang baik sampai sekarang. Mempelajari tentang kesultanan ini bisa memberikan daya tarik untuk melihat langsung bagaimana wujud dari peninggalan-peninggalan tersebut.

Raja-raja yang memimpin sangat gigih sehingga bisa melawan VOC atau Belanda yang pada saat itu menjadi organisasi superior. Dermaga yang telah diblokade oleh penjajah pun bisa diatasi dengan baik. Karena tekad dan semangat raja-raja yang memimpin, beberapa kerajaan telah ditaklukkan untuk daerah kekuasaan maupun untuk penyebaran agama Islam.

Tinggalkan komentar